Saturday, April 7, 2007

Sejenak Bersama Wakil Rakyat

Sepenggal Cerita dari Pertemuan dengan Wakil Rakyat....

Tunis,
Udara malam itu memang tidak seperti biasanya. walaupun secara perhitungan alam bulan April ini cuaca sudah berganti menjadi hangat. Ternyata, keadaanIbukota Tunisia ini belum sepenuhnya beranjak dari musim dingin. malahan semilir angin lautnya hampir sama kuatnya dengan Januari atau dipermulaan Febuari kemarin. Ramalan cuaca dari Tv7 Tunis pun memang membenarkan, siklus udara diseputar perairan Mediterania yang membawa uap dingin dari daratan Eropa akan menghembus kuat Negara-negara seputar Afrika utara tak terkecuali Tunis yang berada disemenanjung paling Ujung Afrika.
Tapi semua itu tidak menyurutkan niat saya ingin bertatap muka secara langsung dengan para wakil Rakyat. sore-sore, setelah Kuliyah dari Universitas Zetouna; langsung bertolak kepusat perkumpulan Pelajar Indonesia (Association des Etudiants Indonésiens en Tunisie) di Sedjoumi El Hilal. tak jauh dari kampus tercinta Ma'dah Hadharah Al Islamiyyah. Tapi baru Sekitar pukul 18.30-an dengan Bis Renoult 37 MD 12 milik Kedutaan. kita semua mahasiswa yang cuma berjumlah 16 orang itu berangkat menuju perkantoran Rue Oubeira daerah Berges Du Lac.
Anda akan sedikit heran, Jam 20.05 itu baru saja masuk waktu shalat Maghrib. sama ketika kami sampai di Kedutaan Republik Indonesia Tunis itu, tak lama kemudian berkumandang adzan dari mesjid yang hanya beberapa bangunan dari kedutaan kita. selepas Shalat Maghrib Berjamaah. tak lupa berilaturahmi dengan para staf lokal, ibu-ibu Dharma Wanita, beserta keluarga mereka. bertemu dengan mereka seperti membukakan memori tentang istimewanya satu nasionalisme, rasa kebangsaan. saya merasakan seperti Back to Home. sedikit itu indah, walaupun segelintir orang tapi kita kuat dan selalu bahu membahu mengenalkan indonesia pada mereka yang diluar. memori untuk bertatap muka pada keluarga dan kampung halaman yang diseberang pulau itu saya tumpahkan disini, bersama mereka. ah.. kalau saya bercerita tentang kerinduan pada Indonesia tak akan habis beribu halaman untuk mengungkapkannya cieh....
sesumbar berita kedatangan para Wakil Rakyat, memang telah santer kami terima beberapa minggu sebelumnya. kunjungan yang diprakarsai oleh parlemen tunisia dalam rangka Rapat bersama antara parlemen kedua negara tersebut memang telah berlangsung dari beberapa hari kebelakang. satu minggu mereka bertujuh Anggota Komisi VII tersebut akan menjajaki setiap sudut pesona Tunis yang Eksotik. Disamping mereka tidak akan lupa dengan tugas utama untuk menghadiri pertemuan penting bersama Parlemen serta menteri Pendidikan tinggi untuk menghasilkan beberapa perjanjian MOU dalam bidang pendidikan, ekonomi, budaya dan yang lainnya.
Sekitar pukul 20.00 Ruangan Nusantara KBRI Tunis telah disulap menjadi pesta kecil, dengan hidangan istimewa ala prasmanan. beberapa makanan khas indonesia seperti Daging ala balado, sop isi baso dan daging, sampai Ikan Cobek telah siap tersaji. tak lupa terselip hidangan manisan khas Tunis seperti Makroud Kairouan, manisan gaya bola; Baklouah serta Kurma yang sudah terkenal diseluruh pelosok arab, sebagai produk dengan kualitas terbaik.
kita dibuat sedikit degdegan, menunggu kedatangan para tamu itu (Insert; Anggota Parlemen) yang tadi siang bertolak menuju Sousse. kota pariwisata yang tak boleh dilewatkan para Turis yang datang menuju Tunisie ini.
Baru pukul 21.00, rombongan tersebut datang dengan puluhan para Jurnalis dari beberapa media masa Indonesia yang sengaja di datangkan oleh pemerintah Tunisia. kontan saja, jamuan menjadi membengkak. saya yang saat itu menjadi Penerima tamu diruangan Utama bersama Bang Ridho,senior yang kurang lebih setahun lagi menyelesaikan License-nya. Dengan stelan Batik yang saya beli dari Tanah Abang beberapa waktu sebelum keberangkatan study ke Tunis. sesekali memang terlihat seperti Pramusaji di Hotel-hotel Indonesia. Tak apalah. awalnya memang terasa kaku harus berhadapan langsung dengan para pejabat itu. beberapa nama yang masih saya ingat, salah satunya ada Bapak Sony Kraf, yang dulu pernah jadi menteri lingkungan hidup di Era Gusdur, bapak Agusman Effendi dari Golkar sebagai Ketua Komisi, Muhammad Najib Msc; dari PAN, ada Wahyuddin Munawir dari golongan Partai 'Tarbiyyah' PKS Sultan Bhatoegana dari PD, Zainudin amali dan Kahar Muzanin dari Golkar.
setelah acara Diner yang selesai sekitar 45 menit itu, kita menuju Ruangan samping Nusantara. Disana telah berderet kursi-kursi menyerupai tempat konferensi mini, tapi secara off recorder. dan inilah acara sesungguhnya yang kita tunggu-tunggu, dimana para Anggota Legislatif itu membawa oleh-oleh cerita seputar negeri kelahiran. walaupun dengan wajah-wajah yang sedikit tergurat rasa lelah, tapi tak menyurutkan antusiasme mereka bertatap muka serta berdialog dengan masyarakat Indonesia di Tunisie. sesekali, terdengan gurauan humor dari pemaparan bapak Agusman atau bapak sultan yang disambut tawa meriah dari audience semuanya. Bapak Agusman yang ternyata Ketua Harian KONI itu, memberi penjelasan tentang kunjungannya ke Tunis yang merupakan rangkaian undangan dari Parlemen Tunisia dan Jerman itu. Dalam rangka meeting pembahasan seputar perkembangan Tekhnologi Tsunami. seputar Isu hak interpelasi DPR terhadap pernyataan pemerintah yang menyutujui sanksi PBB terhadap Iran.
Dalam session tanya jawab tidak kalah menariknya, para anggota Parlemen sedikit Kebakaran Jenggot ketika ditanya tentang anggaran belanja Laptop. Dengan nada humor Arwani, mahasiswa yang bertanya mengungkapkan "asal bapak tau aja, alhamdulillah kita semua mahasiswa yang belajar di Tunis. hampir semua memiliki laptop hasil jerih payah kita sendiri, masa nggak malu hanya buat Laptop aja harus pake uang rakyat nih... " kontak saja disambut tawa riuh semuanya. Dede Permana beserta Iqbal memberikan masukan terkait study di Tunis yang ternyata MOU antara pemerintah Indonesia dan Tunisia telah kadaluarsa. sehingga tidak ada perjanjian Schoolarshif untuk jenjang master dalam dua tahun terakhir ini. . sesekali para mahasiswa promosi pendidikan tunisia, supaya mendapatkan tindak lanjut yang riel dari pemerintah Indonesia. dan beliau berjanji akan meninjak lanjutinya pada pemerintah dengan membuat usulan di Rapat hasil kunjungan. selain besok tanggal 05 April pukul 10.00 dijadualkan akan bertemu menteri dan Beberapa Staf Ahli Kementrian pendidikan tinggi Tunisia, akan disampaikan usulah penambahan mahasiswa dan kemungkinan pertukaran pelajar juga.
pertanyaan sedikit melenceng disampaikan oleh Staf Local Bapak Hannan, dia bertanya seputar kasus Ambalat, serta sipadan dan Ligitan. dengan nada humor dia mengungkapkan "meskipun saya 12 tahun di Tunis, tapi nasionalisme saya tidak pernar padam. maka saya tak rela sejengkalpun tanah dari indonesia di ambil oleh negara lain.... " ungkapnya dengan menggebu-gebu. untung saja tidak sampai meneriakan "ganyang malaysia".
akhirnya forum itu berakhir pukul 23.30. Setelah Bapak Hertomo Reksodiputro, selaku Dubes memberikan Cinderamata kepada semua Anggota DRP komisi VII. diselingi foto-foto dan tukar kartu nama dari beberapa Tamu tersebut. terima kasih bapak-bapak tentang cerita-ceritanya, motivasinya....
Insya allah we'lln be next Generetion yang akan membangun Indonesia dengan sepenuh hati kami. Bravo Indonesia........

Seberkas cahaya

sesirat kenangan, dan perjalanan hidup....
12 Maret 2007
20.40

seberkas cahaya yang menguntil risih menyembur dari peraduannya, timur daya yang membawa semilir angin kering dengan kuat sekali. ini hampir genap lima bulan saya menjajaki Tunis. Negeri di semenanjung perairan Mediterania. beberapa planing dan target dalam study sedikitnya telah mengalami pencerahan, setidaknya dalam contoh beberapa kasus saya mau mencoba dan berusaha mengejar ketinggalan materi yang diawal kuliyah pernah mengalami Shock seperti keterasingan dengan kondisi baru. pengaruh berhenti dari kegiatan formal study hampir setahun kemarin memicunya penurunan karakter pada diri yang diawali harus kembali jalur-jalur komunikasi bangku sekolah. Sehingga ketika bertemu rutinitas yang memaksa untuk lebih concern secara massif, oh may God. ternyata jauh sekali saya telah tertinggal dari yang lain. so ketika di lepas semuanya. maka kemanakah kita menggantungkan niat dan fasilitas untuk mengadu asah otak. memang tanggal 13 Oktober di temani keheningan Jakarta dini hari Jumat itu, bukan hanya sekedar perjalanan menggantungkan nasib dengan buku-buku dan catatan dari Dosen tentang disipli ilmu saja yang akan saya hadapi, tapi satu konfigurasi kompleks dari masyarakat Tunisie, delimatika serta konskuensi logis semua hal yang akan saya temukan disini. menjajaki kehidupan baru, notabene-nya semua ini sebagai penyambung untuk masa depan yang ternyata harus saya ukir sendiri bagaimana Grand design-nya. toh memang semuanya bukan semata-mata menyelinap masuk begitu saja tanpa kita persilahkan, ia butuh perencanaan dan strategi ala menjemput nasib-nasib, terlepas adanya takdir dan kuasa diatas. tapi saya yakin tuhan tidak akan mengobral klimaks dan kesuksesan yang sangat subjektif itu secara cuma-cuma, butuh peluh dan keringat bercucuran untuk memperjuangkannya.
Maka tak kala semuanya hadir setelah semua usaha dan penyerahan kita secara total kemudahan menghampiri kita, maka kuat sekali kita akan pegang semuanya. trust me, my Friend lompatan-lompatan perjuangan biarkan beriak, mengalir menjelajahi hulu hilirnya, semuanya untuk kearifan dan kebijaksanaan.
Risih sekali berjuta manusia saya saksikan yang mengais nasib pada fasilitas-failitas yang semu, bahkan terkesan fatamorgana, mereka yang mengaisnya dengan penuh kepapaan. mereka yang menggantungkan nasib pada dadu, angka-angka togel atau yang lainnya, kasihan sekali semuanya tampak biasa saja tumbuh, menganak cucu dengan cepat, menggema dari desa ke kota, mereka tidak peduli pada potensi, keterpilan yang secara lahiriah tuhan berikan sebagai modal.
Tunis, padanya saya terhenyak sesaat, menyedarkan sepenuhnya tentang dunia yang akan kita hadapi penuh variasi. banyak jebakan akan kita temukan, dan ternyata, kita harus pandai-pandai menyelaraskan asumsi pada kenyataan, menyeimbangkan irama hidup kita. ini bukan idealisme yang harus memuncak, tapi seperti elastis bergerak penuh perhitungan, kita akan temukan berbagai ketidaklayakan yang harus kita telan sebagai satu kelayakan atau sebaliknya semua itu hanya sambingan dari sesuatu yang esensi sebenarnya.
al muhim, saya tidak merasa di dzolimi oleh lingkungan, maka saya akan berusaha interest sambil mengusung satu bentuk perubahan pada tatanan baru secara massif, bukan sporadis dan acak.
ternyata 5 bulan pertama dari saat di lpes keluarga itu, saya belajar kebudayaan di starta masyarakat yang dilematis. dont be give wrong steatment before rechek pada masayarakatnya secara menyeluruh. seperti hancurnya pemikiran negara arab penuh dengan masyarakat yang 'arab' sebagaimana dilukiskan selama ini. saya temukan kelonggaran dan apresiasi baru pada kebudayaan yang akan selamanya bergerak dan mengalami penyesuaian.
Tapi yang membuat saya sangat apresiatif, berjarak jauh dengan tanah air akan membuat kita semakin mengerti artinya satu rasa, bangsa dan bagaimana bahu membahu membangun satu hubungan moral sesama masayarakat sendiri. setiap kali saya kembali bercengkrama dengan masyarakat indonesia, orang-orang satu tanah air, seperti saya temukan 'rumah', tempat kembali untuk bercerita, berbagi berbagai hal yang kita temukan ganjil, atau sekedar melepas kerinduan yang sebenarnya kita titipkan kerinduan itu pada sanak saudara beribu kilo meter diseberang laut itu, tapi yang dekatlah kita berikan semua itu. mereka cermin saudara, sanak satu bangsa yang tak perlu sangsi lagi segala kebaikan budinya.